Rabu, 21 November 2012

Wisata Adat Kampung Suku Baduy di Desa Cibeo, Rangkasbitung, Banten

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang melimpah dari Sabang dari Merauke. Keragaman adat Indonesia mewarnai setiap tempat wisata yang ada di Kepulauan Nusantara. Bermacam-macam wisata budaya memiliki keunikan tersendiri dan memberi ciri khusus pada karakter masyarakat tersebut. Hal tersebut mendorong bagi terciptanya iklim wisata budaya yang unik disaat beragam wisata modern kian menjamur di tanah air.

Salah satu wisata adat yang terkenal di Indonesia adalah perkampungan suku Baduy di provinsi Banten. Masyarakat adat suku Baduy tinggal di Desa Cibeo, Kabupaten Rangkasbitung dan memiliki kekerabatan dengan Suku Sunda. Suku Baduy terbagi menjadi menjadi dua kelompok, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Warga mereka menganut agama Hindu, Islam, atau Buddha. Ciri khusus kehidupan suku Baduy adalah menolak keberadaan kehidupan modern dalam setiap segi kehidupan warganya. Mereka berpegang teguh pada cara hidup secara alami.

Daya tarik wisata adat di Kampung Baduy adalah kehidupan alami dengan pemandangan alam yang indah, keindahan tenun khas suku Baduy, dan memperkenalkan keragaman budaya Indonesia pada anak-anak. Berkat sisi misterius suku Baduy, tempat wisata di Banten ini sering dijadikan rujukan sebagai tempat wisata pendidikan di Indonesia. Banyak akademisi yang melakukan penelitian disana untuk mengetahui cara bertahan hidup dengan mengabaikan perkembangan budaya modern.

Transportasi Menuju Kampung Cibeo Suku Baduy

Rumah warga suku baduy di desa Cibeo
Rumah Warga Suku Baduy di Desa Cibeo

Bagaimana cara bepergian dan berwisata menuju Kampung Adat Suku Baduy? Cara paling murah bepergian ke Rangkasbitung yang direkomendasikan oleh Johanes Jonaz dari Milis Backpacker adalah dengan transportasi kereta api. Jika Anda berangkat liburan dari Jakarta, maka Anda bisa menuju stasiun Jakarta Kota, stasiun Tanah Abang, maupun stasiun Pasar Senen. Jadwal keberangkatan kereta selengkapnya silakan dilihat di website resmi PT. KAI.

Perjalanan kereta api dari Jakarta menuju stasiun Rangkasbitung tarifnya Rp2.000. Sesampai di Rangkasbitung, wisatawan lanjut naik angkot menuju terminal Aweh. Kalau sudah sampai terminal Aweh, kita lanjutkan lagi perjalanan menuju terminal Ciboleger dengan kendaraan elf. Nah, di Ciboleger inilah Anda tinggal mencari pemandu wisata yang akan menuju ke Kampung Adat Suku Baduy di Desa Cibeo.

Mengapa backpacker yang liburan ke Desa Cibeo disarankan memakai jasa pemandu wisata? Alasan pertama, karena mereka lebih tahu medan wisata. Alasan kedua, karena ada beberapa aturan dan pantangan yang tidak boleh dilanggar selama wisatawan berkunjung ke Kampung Baduy di Rangkasbitung tersebut. Ingat, kehidupan mereka bersifat mengisolasi diri dari dunia luar. Jangan sampai kita dapat masalah karena ketidakpahaman terhadap aturan yang ditetapkan oleh ketua adat suku Baduy.

Suku Baduy Menolak Kehidupan Modern

Seperti halnya kehidupan Suku Kajang di Makassar, Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok. Suku Baduy Luar saat ini telah berkembang menjadi puluhan perkampungan dengan sedikit sekali sentuhan dunia luar. Sementara itu, Suku Baduy Dalam terbilang sangat ketat dalam membatasi diri untuk berhubungan dengan masyarakat luar. Mereka tinggal di wilayah pegunungan Desa Cibeo, dekat Gunung Kendeng yang menjadi batas alam antara provinsi Banten dan Jawa Barat.

Baik masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam sama-sama membatasi diri untuk bercakap-cakap dengan orang luar, misalnya wisatawan dan pemandu wisata. Mereka hanya akan bicara kalau terpaksa, itu pun dilakukan seperlunya saja. Kesan tertutup dan primitif memang terasa sekali di Desa Cibeo. Pembatasan tersebut dilakukan karena masyarakat Suku Baduy mempercayai bahwa kehidupan orang luar dapat mencelakan keberlangsungan hidup anak cucu mereka.

Masyarakat suku Baduy tidak menggunakan alat transportasi modern, misalnya sepeda kayuh, sepeda motor, apalagi mobil. Mereka juga tidak memakai alat-alat elektronik, tidak menggunakan energi listrik, mandi di sungai, dan hanya memakai pakaian hasil tenunan warga Baduy sendiri. Hal ini akan mengingatkan kita pada wisata adat kampung Bena di Nusa Tenggara Timur (NTT) dimana sifat primitif masih kental sekali.

Oleh karena itu, bila Anda berniat menghabiskan waktu liburan di Kampung Adat Baduy di Desa Cibeo, siapkan diri untuk menjalani kehidupan secara alami tanpa bantuan alat komunikasi dan segala kemudahan lainnya. Siapkan pula jaket tebal, sleeping bag, sepatu mendaki, senter, dan isi penuh baterai handphone sebelum berangkat ke Desa Cibeo. Kehidupan alam juga mengharuskan setiap wisatawan tidur beralaskan bambu di tengah udara pegunungan yang sangat dingin.
Wisata Adat Kampung Suku Baduy di Desa Cibeo, Rangkasbitung, Banten

Pantangan Berkunjung ke Kampung Adat Suku Baduy

Terdapat beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh setiap wisatawan ketika berkunjung ke perkampungan adat suku Baduy di Desa Cibeo. Yang pertama adalah jangan berkunjung ke perkampungan Baduy Dalam pada bulan Fabruari dan Maret setiap tahunnya. Kemudan, harap berhati-hati ketika melakukan perjalanan pada musim penghujan karena wilayah pegunungan Desa Cibeo sangat licin untuk didaki.

Pantangan kedua adalah tidak boleh mengambil foto di kampung adat Baduy. Warga suku Baduy akan menolak untuk diajak berfoto. Penggunaan kamera dilarang karena mereka beranggapan itu adalah sebuah pamali yang melanggar aturan ketua adat. Bila Anda ingin mengabadikan gambar tempat wisata disana, lebih baik pikir ulang niat tersebut karena norma adat disana sangat ketat.

Lalu, larangan ketiga adalah warga asing dari Eropa dan Amerika (bule) dan keturuan Tionghoa dilarang masuk selamanya ke kampung adat suku Baduy. Yang diperbolehkan berkunjung kesana hanyalah warga pribumi Indonesia dan keturunan Arab. Aturan ini terkesan diskriminatif, tapi itulah undang-undang yang berlaku pada masyarakat adat suku Baduy di Desa Cibeo.

Keragaman budaya daerah di Indonesia merupakan pembentuk budaya nasional yang menjadi kepribadian bangsa Indonesia. Wisata adat suku Baduy di Desa Cibeo, Rangkasbitung, Banten menjadi aset budaya lokal yang menjadi daya tarik tersendiri bagi perkembangan iklim wisata di Indonesia. 
Mari jalan-jalan keliling Nusantara!

Sumber: http://tempatwisata.web.id

2 komentar:

  1. Di artikel kan dijelasin pantangan berkunjung dibukan februari dan maret..itu kenapa yah? Karena ada planning mau ksana bulan ini..
    Terimakasih atas penjelasannya..

    BalasHapus
  2. Pd bulan itu sakral bagi org baduy

    BalasHapus

Jangan lupa kasih komentar ya Friend :-)