Oleh: Adi Fikri Humaidi
Waktu
SMA, Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata, “Orang yang pertama
kali menulis itu ibarat bayi yang baru belajar bicara, lucu,
menggemaskan, gak karuan ngomong apa, begitulah kira-kira. Tapi seiring
berjalannya waktu bayi itu tumbuh dewasa, bicaranya semakin lancar,
jelas dan tegas. Seperti itulah dengan orang yang pertama kali membuat
tulisan. Tulisan pertama pasti terkesan lucu, gak karuan, begitu
susahnya kita mencari kosakata, ya itu karena kita masih bayi, tapi
lama-kelamaan kita akan tumbuh dewasa, bahasa kita jelas, tegas dan
kita memiliki banyak kosakata untuk dituangkan kedalam bentuk tulisan.
Bingung
menentukan tema atau gak ada inspirasi, bingung memilih kata-kata,
susah konsentrasi ke permasalahan dan lain-lain, begitulah rata-rata
keluhan-keluhan yang saya dengar dan saya rasakan dari orang yang
pertama kali membuat sebuah tulisan. Mari kita selesaikan satu-persatu
masalah tersebut, tentunya dengan cara saya dan gaya saya. So, jangan
protes.
Masalah Pertama
Bingung Tema/gak Ada Inspirasi
Guru
menulis saya pernah mengatakan, “Pada saat kita mengatakan tidak ada
ide atau inspirasi untuk menulis, sesungguhnya kita memiliki segudang
ide atau gagasan untuk kita tuangkan menjadi sebuah tulisan,”. Ngerti
gak maksudnya? Saya akan menjelaskan langsung dengan prakteknya.
Begini boss, pada saat saya membuat tulisan ini, sebenarnya saya tidak
memiliki ide apapun perihal tulisan apa yang akan saya buat, itu
karena saya bingung mau nulis apa. Nahh, ditengah rasa gundah-gulana
dan kebingungan tersebut saya jadi teringat ketika pertama kali belajar
menulis, bagaimana pertama kali saya mendapatka ide. Lalu tercetuslah
tulisan ini. Sebenarnya tulisan ini adalah ide yang dituangkan dari
masalah-masalah yang saya hadapi ketika saya bingung menentukan tema,
rasa ingin berbagi permasalahan dengan kawan-kawan akhirnya saya
menuangkan permasalahan-permasalan saya tersebut kedalam tulisan ini.
So, pada saat kita kebingungan mencari dan menentukan ide, sebenarnya
pada saat itu kita punya sesuatu yang bisa kita tuangkan kedalam
tulisan, salah satunya, kita bisa menulis kenapa kita bingung, tentunya
kita punya jawaban kan?? (ya..semacam curhat lah)
Masalah Kedua
Bingung Memilih Kata-kata
Pernah
lihat ibu-ibu berantem gak? (maaf buat ibu-ibu), itu yang namanya
kata-kata kalau lagi berantem tidak terbendung boss, apa aja dia ucapin
tanpa beban, masa bodo mau didenger mau enggak, mau menyakitkan mau
menyembuhkan, pokoknya yang namanya “Mulutmu Harimaumu” gak berlaku
tuch buat dia. Nahh, kenapa enggak kita menerapkan prinsip itu boss.
Stop mengatakan bahwa bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tulisan,
kalimat mantra-mantra dari siapa tuch? Untuk kita yang baru pertama
kali menulis gak berlaku tuch kata-kata. Inget boss, menulis adalah
bicara, bicara melalui tulisan, jadi sama aja boss antara menulis dan
berbicara. Gaya kita ngomong ya itulah gaya tulisan kita, gak perlu ada
yang dibuat-buat, biarkan semuanya mengalir seperti kita lagi
berbicara.
Jangan
dulu berpikir kaidah-kaidah menulis yang kita pelajari dari bangku
sekolahan, karena justru hal itulah yang selalu menghambat proses
berpikir kita. Harus seperti ini lah, seperti itulah. Bingung kan?
Karena belum apa-apa kita sudah dijejali banyak aturan yang belum
pantas diterapkan kepada kita. So, hajar aja boss, yang penting nulis.
Yang namanya proses editing itu terakhir, jangan dulu ngedit apa-apa
kalau tulisannya belum jadi. (Dasar orang aneh, lagian apa yang mau di
edit?). Belum apa-apa udah berpikir “ini bener gak yach?, itu sesuai
gak yach?”. Tinggal Tanya aja, kita mau jadi penulis apa mau jadi
editor?
Masalah Ketiga
Susah Konsentrasi
Menurut
saya, menulis itu bukan bertapa atau lagi membidik sasaran tembak
boss, jadi gak perlu konsentrasi ekstrem ala panjat tebing. Yang kita
perlukan hanyalah “Sadar, kita lagi ngebahas apa”. biasanya orang yang
pertama kali menulis itu sifat pedulinya tinggi. Why? Iya, saking
pedulinya, masalah apapun mau ia bahasa lewat tulisan, tapi pada
akhirnya gak ada satu pun masalah yang ia bahas. Otaknya dipenuhi
dengan banyak keinginan, ingin nulis inilah, ingin nulis itulah. Berabe,
kayak ibu-ibu yang baru dapet duit arisan.
Sekali
lagi, yang diperlukan hanya sifat “nyadar”. Kita lagi nulis apa pada
saat ini. Kalau kita lagi nulis tentang “tempe”, gak usah lari ke “es
campur”. Cobain aja makan tempe dikuah pake es campur. Gak karuan kan
rasanya?
Kita
bukan pemerintah yang dituntut untuk memikirkan banyak permasalahan,
kita pada saat itu adalah seorang penulis yang sedang membahas sebuah
permasalan. Jadi, stop meracau kayak orang kesurupan!
Terakhir
yang ingin saya sampaikan, cobalah menerapkan prinsip take and give
dalam kehidupan kita. Sederhana, kalau kita ingin menerima, maka kita
harus memberi, dan kalau kita ingin memberi maka kita harus memiliki.
Botol yang kosong ketika dituangkan tentunya tidak akan mengeluarkan
apa-apa. tapi kalau botol itu sebelumnya diisi air, tentunya akan
mengeluarkan air ketika dituangkan.
Prinsipnya
adalah, kalau menulis itu merupakan sebuah proses penuangan kosakata
dari otak kita, maka sebelumnya kita harus mengisi otak kita dengan
banyak kosakata. Dan kosakata itu terdapat dari buku atau dari bahan
bacaan. Ngerti kan maksud saya, yupss betul banget boss. Dari mulai
sekarang rajin-rajinlah membaca. So, selamat menuangkan ide-ide brilian
anda kedalam sebuah tulisan. (Die)







Tes
BalasHapus