Senin, 12 November 2012

Sindrome Calon Penulis Hebat (Pengalaman Pribadi)

Oleh: Adi Fikri Humaidi
 
Waktu SMA, Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata, “Orang yang pertama kali menulis itu ibarat bayi yang baru belajar bicara, lucu, menggemaskan, gak karuan ngomong apa, begitulah kira-kira. Tapi seiring berjalannya waktu bayi itu tumbuh dewasa, bicaranya semakin lancar, jelas dan tegas. Seperti itulah dengan orang yang pertama kali membuat tulisan. Tulisan pertama pasti terkesan lucu, gak karuan, begitu susahnya kita mencari kosakata, ya itu karena kita masih bayi, tapi lama-kelamaan kita akan tumbuh dewasa, bahasa kita jelas, tegas dan kita memiliki banyak kosakata untuk dituangkan kedalam bentuk tulisan.

Bingung menentukan tema atau gak ada inspirasi, bingung memilih kata-kata, susah konsentrasi ke permasalahan dan lain-lain, begitulah rata-rata keluhan-keluhan yang saya dengar dan saya rasakan dari orang yang pertama kali membuat sebuah tulisan. Mari kita selesaikan satu-persatu masalah tersebut, tentunya dengan cara saya dan gaya saya. So, jangan protes.

Masalah Pertama
Bingung Tema/gak Ada Inspirasi
Guru menulis saya pernah mengatakan, “Pada saat kita mengatakan tidak ada ide atau inspirasi untuk menulis, sesungguhnya kita memiliki segudang ide atau gagasan untuk kita tuangkan menjadi sebuah tulisan,”. Ngerti gak maksudnya? Saya akan menjelaskan langsung dengan prakteknya. Begini boss, pada saat saya membuat tulisan ini, sebenarnya saya tidak memiliki ide apapun perihal tulisan apa yang akan saya buat, itu karena saya bingung mau nulis apa. Nahh, ditengah rasa gundah-gulana dan kebingungan tersebut saya jadi teringat ketika pertama kali belajar menulis, bagaimana pertama kali saya mendapatka ide. Lalu tercetuslah tulisan ini. Sebenarnya tulisan ini adalah ide yang dituangkan dari masalah-masalah yang saya hadapi ketika saya bingung menentukan tema, rasa ingin berbagi permasalahan dengan kawan-kawan akhirnya saya menuangkan permasalahan-permasalan saya tersebut kedalam tulisan ini. So, pada saat kita kebingungan mencari dan menentukan ide, sebenarnya pada saat itu kita punya sesuatu yang bisa kita tuangkan kedalam tulisan, salah satunya, kita bisa menulis kenapa kita bingung, tentunya kita punya jawaban kan?? (ya..semacam curhat lah)

Masalah Kedua
Bingung Memilih Kata-kata
Pernah lihat ibu-ibu berantem gak? (maaf buat ibu-ibu), itu yang namanya kata-kata kalau lagi berantem tidak terbendung boss, apa aja dia ucapin tanpa beban, masa bodo mau didenger mau enggak, mau menyakitkan mau menyembuhkan, pokoknya yang namanya “Mulutmu Harimaumu” gak berlaku tuch buat dia. Nahh, kenapa enggak kita menerapkan prinsip itu boss. Stop mengatakan bahwa bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tulisan, kalimat mantra-mantra dari siapa tuch? Untuk kita yang baru pertama kali menulis gak berlaku tuch kata-kata. Inget boss, menulis adalah bicara, bicara melalui tulisan, jadi sama aja boss antara menulis dan berbicara. Gaya kita ngomong ya itulah gaya tulisan kita, gak perlu ada yang dibuat-buat, biarkan semuanya mengalir seperti kita lagi berbicara.

Jangan dulu berpikir kaidah-kaidah menulis yang kita pelajari dari bangku sekolahan, karena justru hal itulah yang selalu menghambat proses berpikir kita. Harus seperti ini lah, seperti itulah. Bingung kan? Karena belum apa-apa kita sudah dijejali banyak aturan yang belum pantas diterapkan kepada kita. So, hajar aja boss, yang penting nulis. Yang namanya proses editing itu terakhir, jangan dulu ngedit apa-apa kalau tulisannya belum jadi. (Dasar orang aneh, lagian apa yang mau di edit?). Belum apa-apa udah berpikir “ini bener gak yach?, itu sesuai gak yach?”. Tinggal Tanya aja, kita mau jadi penulis apa mau jadi editor?

Masalah Ketiga
Susah Konsentrasi
Menurut saya, menulis itu bukan bertapa atau lagi membidik sasaran tembak boss, jadi gak perlu konsentrasi ekstrem ala panjat tebing. Yang kita perlukan hanyalah “Sadar, kita lagi ngebahas apa”. biasanya orang yang pertama kali menulis itu sifat pedulinya tinggi. Why? Iya, saking pedulinya, masalah apapun mau ia bahasa lewat tulisan, tapi pada akhirnya gak ada satu pun masalah yang ia bahas. Otaknya dipenuhi dengan banyak keinginan, ingin nulis inilah, ingin nulis itulah. Berabe, kayak ibu-ibu yang baru dapet duit arisan.

Sekali lagi, yang diperlukan hanya sifat “nyadar”. Kita lagi nulis apa pada saat ini. Kalau kita lagi nulis tentang “tempe”, gak usah lari ke “es campur”. Cobain aja makan tempe dikuah pake es campur. Gak karuan kan rasanya?

Kita bukan pemerintah yang dituntut untuk memikirkan banyak permasalahan, kita pada saat itu adalah seorang penulis yang sedang membahas sebuah permasalan. Jadi, stop meracau kayak orang kesurupan!

Terakhir yang ingin saya sampaikan, cobalah menerapkan prinsip take and give dalam kehidupan kita. Sederhana, kalau kita ingin menerima, maka kita harus memberi, dan kalau kita ingin memberi maka kita harus memiliki. Botol yang kosong ketika dituangkan tentunya tidak akan mengeluarkan apa-apa. tapi kalau botol itu sebelumnya diisi air, tentunya akan mengeluarkan air ketika dituangkan.

Prinsipnya adalah, kalau menulis itu merupakan sebuah proses penuangan kosakata dari otak kita, maka sebelumnya kita harus mengisi otak kita dengan banyak kosakata. Dan kosakata itu terdapat dari buku atau dari bahan bacaan. Ngerti kan maksud saya, yupss betul banget boss. Dari mulai sekarang rajin-rajinlah membaca. So, selamat menuangkan ide-ide brilian anda kedalam sebuah tulisan. (Die)

1 komentar:

Jangan lupa kasih komentar ya Friend :-)